Kamis, 03 November 2011

Laporan Semester Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum


I. PENDAHULUAN
Bahan pakan merupakan segala sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak, dicerna dengan sempurna atau sebagian dan tidak menimbulkan keracunan pada ternak. Didalam bahan pakan terdapat zat-zat yang dinamakan nutrient yang dibutuhkan oleh ternak untuk metabolisme yang menghasilkan energi untuk hidup pokok dan untuk produksi.
Di dalam pengenalan bahan pakan, terlebih dahulu bahan pakan itu sendiri terbagi menjadi pakan sumber protein hewani yang dibagi menjadi tepung ikan dan protein nabati dibagi menjadi bungkil kelapa dan bungkil kedele. Sedangkan sumber energi dibagi menjadi ada yang berbentuk biji-bijian atau butiran yang terbagi atas : padi, jagung, millet merah dan millet putih. Berbentuk tepung terbagi atas dedak halus, jagung giling, dan dedak halus. Berbentuk cairan terdiri atas : minyak sayur. Sumber mineral terdiri dari garam dan kerang.
Bahan-bahan pakan sumber energi antara lain jagung, beras, sorgum, dedak padi, hijauan (SK). Sumber protein antara lain tepung ikan, bungkil kedele, ampas tahu. Sumber lemak antara lain minyak sayur; sumber vitamin antara lain premik. Sumber mineral antaralain tepung tulanh, tepung kerabang telur, tepung kulit kerang, dll.
Nutrient-nutrient dalam bahan pakan tersebut adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Energi tidak termasuk kedalam nutrieny karena energi diperoleh dari pembakarn zat makanan tersebut. Perbedaan bajan pakan yang dikonsumsi oleh ternal antara lain ternak ruminan dengan unggas hanyalah perbedaan bentuk/ struktur bahan pakan tetapu kandungan yang dibutuhkan oleh ternak tidak berbeda.
Asal limbah pertanian atau agrobisnis terdiri dari kulit biji bunga matahari dan kulit kacang kedele. Serta jenis-jenis obat hewan yang terdiri dari coxy dan therapy. Sedangkan yang termasuk dari aditif pakan antara lain : egg stimulant, neobro, vita chick, supertop, multivit.
Sedangkan bahan yang termasuk bahan pakan palsuan adalah batu bata, serta nama hijauan tanaman pakan terdiri dari : rumput setaria, rumput stylo, rumput benggala, rumput raja, rumput senuduk dan rumput gajah.
Pemberian makanan secara praktis kepada ternak dengan dilandasi dasar ilmiah membutuhkan penggunaan dua perangkat data, yakni data kebutuhan zat-zat makanan dari spesies hewan dengan maksud hewan tersebut diternakan bagi kepentingan tertentu. energi yang terdapat pada setiap makanan atau bahan pakan ternak itu berbeda-beda. Tingginya kandungan energi  pada bahan pakan tersebut akan berpengaruh terhadap bobot badan ternak yang diberi pakan tersebut
Pakan merupakan bahan pakan yang sangat  erat hubungannya dengan ternak sebagai sumber kehidupan. Dimana nutrient adalah sebagai zat makanan yang terdapat dalam bahan makanan yang di gunakan dalam tubuh ternak untuk memperoleh energi dan mengatur proses dalam tubuh. Analisis proximat di kemukakan dari Weende Experimentstation di jerman oleh Hennegers dan Stokman pada tahun 1865 yaitu suatu metode analisis dan menggolongkan komponen yang ada dalam makanan. Cara ini hamper di pakai di seluruh dunia dan di sebut “Analisis proximat “. Analisis ini di dasarkan atas komposisi sususnan kimia dan kegunaannya.
Pemberian makanan secara praktis kepada ternak dengan dilandasi dasar ilmiah membutuhkan penggunaan dua perangkat data, yakni data kebutuhan zat-zat makanan dari spesies hewan dengan maksud hewan tersebut diternakan bagi kepentingan tertentu. energi yang terdapat pada setiap makanan atau bahan pakan ternak itu berbeda-beda. Tingginya kandungan energi  pada bahan pakan tersebut akan berpengaruh terhadap bobot badan ternak yang diberi pakan tersebut.
Dalam menentukan energi bruto dengan oxygen bomb calorimeter menggunakan alat serta bahan yaitu unit bomb calorimeter, tabung oksigen, termometer, alat pembuat pellet, kawat platina, larutan methyl orange dan larutan Na2CO3 dan bahan pakan berupa bungkil kelapa, dedak padi, rumput raja. Peningkatan suhu yang telah diukur dengan termometer dapat dihitung energi bruto yang telah dihasilkan. Penetapan energi bruto ini terjadi pengubahan energi kimia dalam suatu sampel menjadi energi panas dan diukur jumlah panas yang dihasilkan.
Untuk melakukan pengukuran energi bruto dalam bomb calorimeter protein akan mendapatkan nilai yang lebih besar dibandingkan dengan energi  karbohidrat, akan tetapi hasil pembakaran yang akan didapat di dalam tubuh ternak adalah nilai energi  protein yang mempunyai zat-zat yang dibutuhkan tubuh mendekati energi karbohidrat.
Kandungan yang terdapat pada energi bruto di dalam bahan organic dapat dicerminkan dengan melihat kondisi yang terjadi dari proses oksidasi yang dilakukan didalam mencari energi bruto tersebut. Besarnya energi kimia juga sangat dipengaruhi dengan adanya  ratio antar C/H dengan atom O dan N.
Banyaknya kandunagan  energi bruto didalam bahan makanan sangat tergantung pada komposisi dari karbohidrat, protein dan lemak yang terdapat dalam bahan makanan tersebut. Nilai energi  bruto dari berbagai bahan makanan bermacam- macam dan tidak menentu, akan tetapi secara umum telah ditetapkan nilai energi bruto untuk KH = 4,15 kkal/kg, protein = 5,65 kkal/kg, dan lemak = 9,45 kkal/kg. (Ella Hendalia, et.al. 2008).
Jumlah bahan pakan ternak yang mempunyai hitungan energi bruto yang tinggi juga tidak dapat menyumbangkan banyak enegi untuk keperluan tubuh dalam jumlah yang banyak pula dikarenakan hal ini  sangat dipengaruhi oleh daya cerna bahan pakan ternak  tersebut.

 

Analisis bahan makanan terutama bertujuan untuk dapat memperkirakan respons produktivitas darai ternak. Mereka di beri ransum dengan komposisi bahan makanan tertentu.
            Analisis proksimat pertama kali dikembangkan di Weende Experiment Station, Jerman oleh Hennerberg dan Stokman. Oleh karenanya analisis ini sering juga disebut analisi Wendee. Analisi proksimat menggolongkan komponen yang ada dalam bahan pakan berdasarkan fungsi dan komposisi kimia. Penyediaan bahan pakan pada dasarnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan zat makanan yang diperlukan oleh ternak. Pemilihan bahan pakan tidak akan terlepas dari kesediaan zat makanan itu sendiri yang dibutuhkan oleh ternak.
            Untuk mengetahui beberpa jumlah zat makanan yang diperlukan oleh ternak serta cara menyusun ransom diperlukan pengetahuan mengenai kualitas dan kuantitas zat makanan. Jumlah zat makanan dapat dideterminasi dengan analisi kimia, seperti analisis proksimat.
Bahan pakan merupakan segala sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak, dicerna dengan sempurna atau sebagian dan tidak menimbulkan keracunan pada ternak. Didalam bahan pakan terdapat zat-zat yang dinamakan nutrient yang dibutuhkan oleh ternak untuk metabolisme yang menghasilkan energi untuk hidup pokok dan untuk produksi.
Nutrient-nutrient tersebut adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Energi tidak termasuk kedalam nutrieny karena energi diperoleh dari pembakarn zat makanan tersebut. Perbedaan bajan pakan yang dikonsumsi oleh ternal antara lain ternak ruminan dengan unggas hanyalah perbedaan bentuk/ struktur bahan pakan tetapu kandungan yang dibutuhkan oleh ternak tidak berbeda.
Bahan-bahan pakan sumber energi antara lain jagung, beras, sorgum, dedak padi, hijauan (SK). Sumber protein antara lain tepung ikan, bungkil kedele, ampas tahu. Sumber lemak antara lain minyak sayur; sumber vitamin antara lain premik. Sumber mineral antaralain tepung tulanh, tepung kerabang telur, tepung kulit kerang, dll.
Bahan pakan merupakan segala sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak, dicerna dengan sempurna atau sebagian dan tidak menimbulkan keracunan pada ternak. Didalam bahan pakan terdapat zat-zat yang dinamakan nutrient yang dibutuhkan oleh ternak untuk metabolisme yang menghasilkan energi untuk hidup pokok dan untuk produksi.
Nutrient-nutrient tersebut adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Energi tidak termasuk kedalam nutrieny karena energi diperoleh dari pembakarn zat makanan tersebut. Perbedaan bajan pakan yang dikonsumsi oleh ternal antara lain ternak ruminan dengan unggas hanyalah perbedaan bentuk/ struktur bahan pakan tetapu kandungan yang dibutuhkan oleh ternak tidak berbeda.
Bahan-bahan pakan sumber energi antara lain jagung, beras, sorgum, dedak padi, hijauan (SK). Sumber protein antara lain tepung ikan, bungkil kedele, ampas tahu. Sumber lemak antara lain minyak sayur; sumber vitamin antara lain premik. Sumber mineral antaralain tepung tulanh, tepung kerabang telur, tepung kulit kerang, dll.
Dalam menentukan energi bruto dengan oxygen bomb calorimeter menggunakan alat serta bahan yaitu unit bomb calorimeter, tabung oksigen, termometer, alat pembuat pellet, kawat platina, larutan methyl orange dan larutan Na2CO3.
Peningkatan suhu yang telah diukur dengan termometer dapat dihitung energi bruto yang telah dihasilkan. Penetapan energi bruto ini terjadi akibat adanya pengubahan energi kimia dalam suatu sampel menjadi energi panas dan diukur jumlah panas yang dihasilkan. Perbedaan sampel juga dapat mempengaruhi.
Ransum adalah susunan dari beberapa bahan pakan dengan. perbandingan tertentu sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak. Jadi dengan mencampur beberapa jenis bahan pakan diharapkan kandungan gizi ransum sesuai dengan kebutuhan gizi ayam sehingga ayam dapat berproduksi dengan baik.
Hal terpenting yang harus diperhatikan dalam mencampur ransum adalah mengetahui bahan mana yang harus dicampur terlebih dahulu agar hasilnya rata atau homogen. Jika ransom dibuat dalam jumlah kecil dapat dilakukan secara manual tetapi bila dalam jumlah besar dapat digunakan mesun pencampur atau mixer.
Bahan yang dicampur terlebih dahulu biasanya jumlahnya sedikit bentuk fisiknya halus seperti premix  sumber mineral.
            Metode yang digunakan untuk menyusun ransum ternak diantaranya adalah metode coba-coba atau trial and error method, metode persamaan simulat, metode matriks dan metode persamaan linear. Macam-macam metode tersebut pada prinsipnya sama, hanya teknis penghitungannya yang berbeda.
            Persamaan linear yang banyak digunakan dalam program komputer tentunya lebih mudah dan cepat dalam menyusun ransum. Dengan metode ini banyak pilihan bahan pakan yang dapat digunakan dalam menyusun ransum sehingga akan didapat kombinasi bahan pakan yang mudah diperoleh di sekitar tempat tinggal peternak, sesuai kebutuhan gizinya dan harga yang termurah.
            Sebelum menyusun formulasi ransum, terlebih dahulu harus diketahui beberapa kebutuhan ternak. Kemudian memilih bahan makanan yang dapat memenuhi pesyaratan nutrisi yang ekonomis.
            Ransum yang banyak digunakan untuk menyusun ransum ternak adalah metode coba-coba. Cara ini relatif mudah bila bahan pakan yang digunakan tidak banyak jenisnya, tetapi pertimbangan harga minimum sulit dilakukan.
Tujuan dari praktikum bahan pakan dan formulasi ransum adalah supaya kita dapat menganalisi sampel zat makanan yang diberikan kepada ternak dengan melakukan percobaan di laboratorium, dapat menjelaskan berbagai macama bahan pakan sumber energi, protein (hewani dan nabati), hijauan makanan ternak, vitamin, feedaditive, minerak, obat-obatan, dan bahan pemalsu pakan, agar dapat mengetahui tentang cara-cara menghitung energi pada bahan kering yang digunakan serta alat - alat apa saja yang digunakan pada penentuan energi bruto. menambah wawasan cakrawala pengetahuannya mengenai bahan pakan yang dapat dimanfaatkan dan diberikan untuk ternak. Serta dapat dijadikan suatu pelajaran bagi peserta praktikum untuk menjalankan suatu usaha dikemudian hari dan dapat menerapkan apa yang telah dipelajari dari praktikum yang telah dilaksanakan dengan optimalisasi. Mahasiswa dapat menjelaskan berbagai macama bahan pakan sumber energi, protein (hewani dan nabati), hijauan makanan ternak, vitamin, feedaditive, minerak, obat-obatan, dan bahan pemalsu pakan.
bertujuan agar mahasiswa dapat menjelaskan berbagai macam bahan pakan sumber protein hewani dan nabati, sumber energi, hijauan makanan ternak, vitamin, aditif pakan, mineral, obat-obatan dan bahan pemalsuan pakan.
Sedangkan tujuan dari praktikum energi bruto dengan oxigen bomb calorimeter yaitu agar  mahasiswa dapat mengetahui jumlah energi yang terdapat pada sampel, serta mendapatkan pengalaman cara-cara menentukan energi bruto, dan mengenal alat – alat dari penentuan energi bruto
Manfaat dari praktikum bahan pakan formulasi ransum adalah suapaya kita mengetahui kandungan dari zat pakan ternak, sehingga dalam menyusun ransum kita dapat mengerjakan tanpa adanya kekurangan sample makanan atau kelebihan jumlah zat makanan, kita dapat lebih mengenal dan membedakan secara lebih spesifik antara berbagai macam bahan pakan ternak, kita dapat mengetahui energi yang terkandung didalam bahan yang digunakan, alat – alatnya dan cara menentukan energi bruto.
agar pratikan belajar menyusun suatu formula ransum sesuai dengan tujuan dan kebutuhan ternak dan mengetahui apa saja yang dipratikumkan dan dijelaskan oleh asisten dosen, tentang bagaimana cara penyusunan ransum dan bahan-bahan apa saja yang digunakan dalam penyususnan ransum serta persentase pemakaian bahan pakan yang akan digunakan, dan yang terpenting adalah praktikan mendapatkan pengalaman mencampur ransum secara manual.

 
            Manfaat yang diperoleh pratikan pada saat pratikum adalah pratikan dapat lebih mengetahui serta bisa mempraktekkanya secara realistis mengenai tata cara menyusun suatu formula ataupun mencampur ransum yang dibutuhkan oleh ternak secara baik dan terorganisir.


















II.TINJAUAN PUSTAKA


Pengenalan Alat dan Bahan Pakan

         Menurut ( Agustin 2000 ) yang menyatakan bahwa  suatu bahan makana ternak sangat baik jika mengandung sumber-sumber yang baik dan lebih baik jika mengandung protein yang tinggi. Selanjutnya  pendapat dari ooment  dinyatakan atau didukung dengan pendapat  ( Elisabeth 2004) yang menyatakan bahwa hijauan makanan ternak mengandung berbagai sumber sperti sumber protein, sumber vitamin, sumber karbohidrat, sumber  mineral. Dan dinyatakan oleh pendapat  ( Rossi,E 2006) semakin tinggi serat kasar bagi ternak semakin merugikan tapi semakin tinggi serat kasar bagi tumbuhan semakin menguntungkan.
            Pendapat  ( Aritonang 2002 ) yang menyatakan bahwa feed additive  hanya sebgai pelengkap atau hanya sebagai tambahan untuk meningkatkan performance ayam.di lanjutkan dengan suplemen seperti vitamin menurut pendapat ( Surtino 2000 )  suplemen merupakan suatu tammbahan yang dicampurkan pada ransum untuk meningkatkan kesehatan ayam.
( mathius 2004 ) menyatakan bahwa setiap alat –alat lab memiliki fungsi masinng – masing dan mempunyai peranan yang berbeda-beda.
            Drs. Suprayitno dkk (2005) menyatakan adapun zat yang terdapat dalam daun,  bunga, buah lamtoro adalah zat protein yang berkisar antara 30 – 40 %, zat lemak 6,13 %, sedangkan kadar salah satu jenis alkoid yaitu memosin hanya 2,80 %.
.Rumput gajah merupakan hijauan pakan sumber energi, memiliki batang yang kadar serat lebih rendah sehingga dapat dipotong pada tingkat pertumbuhan yang lebih menggunakan potongan batang (stek) atau sobekan rumput (BIP Ciawi, 2004).
Drs. Suprayitno dkk (2007) menyatakan adapun zat yang terdapat dalam daun, bunga, buah lamtoro adalah zat protein yang berkisar antara 30 – 40 %, zat lemak 6,13 %, sedangkan kadar salah satu jenis alkoid yaitu memosin hanya 2,80 %.
.Rumput raja hibrida atau King grass (Pennisetum purpuroides) adalah jenis rumput baru yang merupakan hasil persilangan antara Pennisetum purpureum (rumput gajah) dengan Pennisetum typoides (Siregar, 2003).
Murwani et al., (2002) menyatakan bahwa additive adalah bahan pakan tambahan yang diberikan pada ternak dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak maupun kualitas produksi.

Preparasi Sampel
Murtidjo (2009), additive adalah imbuhan yang umum digunakan dalam meramu pakan ternak. Penambahan bahan biasanya hanya dalam jumlah yang sedikit, misalnya additive bahan konsentrat, additive bahan suplemen dan additive bahan premix.
 Drs. Hardiyono (2000) komposisi rumput setaria (dasar bahan kering) terdiri atas; abu 11,5%, ekstrak eter (EE) 2,8%, serat kasar (SK) 32,5%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 44,8%, protein ksar (PK) 8,3% dan total digestible nutrients (TDN) 52,88%.
Feed additive merupakan bahan makanan pelengkap yang dipakai sebagai sumber penyedia vitamin-vitamin, mineral-mineral dan atau juga antibiotika (Anggorodi, 2001).
           Menurut ( Agustin 2000 ) yang menyatakan bahwa  suatu bahan makana ternak sangat baik jika mengandung sumber-sumber yang baik dan lebih baik jika mengandung protein yang tinggi. Selanjutnya  pendapat dari ooment  dinyatakan atau didukung dengan pendapat  ( Elisabeth 2004) yang menyatakan bahwa hijauan makanan ternak mengandung berbagai sumber sperti sumber protein, sumber vitamin, sumber karbohidrat, sumber  mineral. Dan dinyatakan oleh pendapat  ( Rossi,E 2006) semakin tinggi serat kasar bagi ternak semakin merugikan tapi semakin tinggi serat kasar bagi tumbuhan semakin menguntungkan.
            Pendapat  ( Aritonang 2002 ) yang menyatakan bahwa feed additive  hanya sebgai pelengkap atau hanya sebagai tambahan untuk meningkatkan performance ayam.di lanjutkan dengan suplemen seperti vitamin menurut pendapat ( Surtino 2000 )  suplemen merupakan suatu tammbahan yang dicampurkan pada ransum untuk meningkatkan kesehatan ayam.
   Murwani et al., (2002) menyatakan bahwa additive adalah bahan pakan tambahan yang diberikan pada ternak dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak maupun kualitas produksi.
Murtidjo (2009), additive adalah imbuhan yang umum digunakan dalam meramu pakan ternak. Penambahan bahan biasanya hanya dalam jumlah yang sedikit, misalnya additive bahan konsentrat, additive bahan suplemen dan additive bahan premix.
Feed additive merupakan bahan makanan pelengkap yang dipakai sebagai sumber penyedia vitamin-vitamin, mineral-mineral dan atau juga antibiotika (Anggorodi, 2001).

Analisis Proksimat
Dina,2001 menyatakan bahwa setiap 1kg dedak padi mengandung sekitar 20% serat kasar.
Arian,2009 menyatakan bahwa didalam bungkil kedele banyak mengandung protein yang baik untuk pertumbuhan embrio ternak.
Menurut Bagas,2006 menyatakan bahwa tepung ikan mengandung protein hewani paling banyak diantara bahan pakan yang diberikan ke ternak.
Adrianto,2001 mengemukakan bahwa tiap 100gr tepung darah mengandung seng sebanyak 2,5gr.
Zulfikar,2008berpendapat bahwa bahan palsuan pakan ternak dapat berupa serbuk gergaji.
Dewi,2001 mengatakan bahwa bagase tebu banyak mengandung zat gula.Dan ini pun dapat dijadikan sebagai bahan pakan sumber energi.
Dion,2000 menyatakan bahwa bahan pakan yang dapat digolongkan sebagai bahan pakan sumber energi adalah apabila jumlah karbohidrat dalam tiap gram nya mencapai lebih dari 75%. Menurut (Sartika,2001)bahan pakan yang dapat diberikan ke ternak adalah bahan yang baik dan representatif.
            Pendapat (Defano,2001)cara pengambilan sampel terbagi atas 2,yaitu aselektif dan selektif dimana hasil dari kedua jenis pengambilan ini akan berbeda.
   Murwani et al., (2009) menyatakan jumlah sampel yang diambil adalah tidak lebih dari 10% dari jumlah barang.
Murtidjo (2009), mengatakan sampel yang telah diambil harus segera diamankan agar tidak rusak atau brubh  sehingga mempunyai sifat yang berbeda dari sampel saat diambil.
Prosesing sampel bertujuan mengevaluasi terutama evaluasi secara mikroskopis,kimia,dan biologis,semua sampel harus digiling sehingga diperoleh sampel yang halus.(Anggorodi, 2001).
Dina,2001 rumus penghitungan kadar air adalah A-Bx100%
                                                                                  A
Arian,2009 menyatakan bahwa untuk mengetahui bahan kering sesungguhnya maka bahan kering udara dikali dengan bahan kering oven.
Sartini(2000) Menyatakan bahwa Analisis Proksimat adalah analisis bahan pakan ternak yang dilihat dari kandungan gizi yang diperlukan oleh hewan ternak tersebut.
            Derano (2001) Menyatakan bahwa oven yang digunakan untuk penentuan kadar air adalah oven 105 derajat Celcius.
            Dodi(2001)menyatakan bahwa kadar berat kering adalah 100%-kadar air yang dinyatakan dalam persen.
            Sulastri(2000) menyatakan bahwa setiap cawan porselin yang sudah dikeringkan di oven,harus ditaruh dahulu di eksikator selama 10-20 menit.
            Satrio(2003)menyatakan bahwa berat bahan yang ditimang harus konstan.
            Lucky(2004)menyatakan bahwa eksikator adalah pendingin yang terdiri dari kotak kaca dan silika gel.
            Irwan(2005)menyatakan bahwa sampel untuk pengukuran kadar air adalah 1 gram.
            Karra(2007)menyatakan bahwa pemanasan di dalam tanur adalah dengan suhu 400-600 derajat Celcius.
            Halim(2006)menyatakan bahwa zat anorganik yang tertinggal di dalam pemanasan dengan tanur disebut dengan abu(ash).
            Suhartini(2008)menyatakan bahwa sampel untuk penentuan kadar abu adalah seberat 3 gram untuk hijauan dan 5 gram untuk konsentrat.
            Musawir(2004)menyatakan bahwa kadar abu adalah hasil pengurangan dari berat akhir dikurangi berat awal dibagi berat sampel dikali 100%.
            Weni(2008)menyatakan bahwa cawan porselin yang berisi sampel dibakar di tanur selama 3-4jam.
            Panji(2009)menyatakan bahwa tanda semua zat organik sudh habis dibakar adalah berwarna putih.
            Cendikia(2007)menyatakan bahwa setelah dibakar ditanur selama 3-4 jam,sampel harus di dinginkan dahulu di tanur tersebut dengan suhu 120derajat Celcius.
            Furqon(2006)menyatakan bahwa  sampel untuk penentuan kadar protein kasar adalah sebanyak 0.3gram.
            Lia(2008)menyatakan bahwa dalam penentuan protein kasar,sampel diberi tambahan katalis sebanyak 0.2gram.
Iya(2007)menyatakan bahwa faktor protein adalah 6.25
            Topan(2009)menyatakan bahwa dalam sampel protein kasar,diberi tambahan H2SO4 sebanyak 5ml.
            Wawan(2004)menyatakan bahwa pemanasan  labu destruksi dilakukan di lemari asam.
            Wiwik(2003)menyatakan bahwa destruksi dihentikan apabila larutan sampel telah berubah warna menjadi hijau terang atau jernih.
            Ola(2008)menyatakan bahwa setelah jernih,sampel dicampur dengan 60ml aquades.
            Sarah(2008)menyatakan bahwa pelarut yang digunakan untuk kadar lemak adalah kloroform.
            Sitha(2006)menyatakan bahwa sampel yang digunakan adalah sebanyak 1gram.
            Suci(2003)menyatakan bahwa ekstraksi lemak berlangsung selama 16 jam.
            Sarah(2009)menyatakan bahwa soklet dinyalakan selama 16 atau sampai terlihat jernih.
Rety(2009)menyatakan bahwasampel setelah dari soklet dikeringkan dalam oven 105derajat selama 5 jam.
Adam(2001)menyatakan bahwa setelah jernih,didinginkan dalam eksikator selama 10-20 menit lalu ditimbang.
Khairul(2009)menyatakan bahwa lemak kasar yang dihasilkan dari penentuan lemak kasar adalah ekstraksi dari klorofil,xanthofil,dan karoten.
Pery(2006)menyatakan bahwa kertas saring yang digunakan dalam penentuan protein kasar adalah kertas saring Whatman No.41.
Siska(2000)menyatakan bahwa sampel yang digunakan dalam protein kasar adalah 1gram.
Harim(2004)menyatakan bahwa sampel dimasukkan kedalam gelas piala.
Ade(2003)menyatakan bahwa H2SO4 yang digunakan adalah 0.3N.
Chandra(2001)menyatakan bahwa larutan sampel tersebut didihkan selama 30 menit di dalam pemanas listrik.
Suris(2005)menyatakan bahwa corong yang digunakan adalah corong Buchner.
Yopie(2008)menyatakan bahwa pelarut yang digunakan adalah aseton.
Susi(2001) menyatakan bahwa bahan ekstrak tanpa nitrogen adalah kandungan zat makanan dikurangi persentase air,abu,protein kasar,lemak kasar,dan serat kasar.







Formulasi Ransum
Sari(2001) menyatakan bahwa formulasi ransum harus memenuhi kebutuhan zat gizi yang diperlukan oleh ternak untuk kebutuhan hidup.
            Arian(2004) menyatakan bahwa formulasi ransum ada bermacam-macam cara,salah satunya adalah trial and error method.
            Martin(2005) menyatakan bahwa setelah ditentukan bahan yang akan diberi kepada ternak,maka kita harus menentukan zat gizi pada tabel Komposisi zat Makanan.
            Bambang(2008) menyatakan bahwa tiap bahan yang kita formulasikan,harus kita hitung biaya pembeliannya.
            Tuani(2007)menyatakan bahwa tingkat ketelitian dalam membuat formulasi ransum adalah sangat tinggi.
            Sri(2007) menyatakan bahwa kita harus menentukan jumlah ransum yang akan dibuat.
            Adam(2000)menyatakan bahwa tiap formulasi ransum harus berjumlah 100%.
Formulasi ransum adalah proses dimana berbagi macam bahan bahan makanan  dikombinasikan dalam proporsi yang esensial untuk ternak dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan fase produksinya  (Retnowati , 2000 ).
Diantara bahan pakan sumber protein tepung ikan merupakan bahan pakan yang paling baik dan superior dibandingkan dengan yang lainnya (Nurhayati, et all, 2008).
Protein nabati meskipun kualitasnya lebih rendah dari protein hewani tetapi ada zat-zat dalam protein nabati yang tidak terdapat dalam protein hewani dalam bentuk prekusaor-prekusor vitamin (Anggorodi.R, 2004).
Ransum yang yang diformulasikan haruslah mendapat cukup palatable agar dapat meransang nafsu makan, karena apabila ransum yang dibuat ditolak oleh ternak maka dapat dikatakan ransum tersebut kurang baik. (Teja Kaswari, 2008).


Mencampur Ransum
            Dalam mencampur ransum bahan-bahan yang dalam jumlah kecil dan bertekstur  halus harus dicampur terlebih dahulu selanjutnya bahan-bahan pakan yang berjumlah besar dicampurkan ( Nurhayati, et.al. 2008)
            Dua cara dalam mencampur ransum yang didasarkan pada jumlah ransum yang akan disusun. Dengan cara manual (jumlah ransum sedikit) dengan mesin pencampur “mixer” (jumlah Besar). (trobus.2008).
Bungkil kedele, ampas tahu ,merupakan bahan pakan sumber protein nabati yang lazim digunakan sebagai pakan ternak (Parrakkasi.a. 2004).
Bahan makanan yang dapt digunakan untuk menyusun ransum dapat dibedakan menjadi bahan makanan sumber energi, bahan makanan sumber protein, bahan makanan sumver lemak, dan  minyak, feed additif, enzymes, dan pemacu pertumbuhan (Nurhayati, 2008). 
Bahan pakan sumber energi yang utama adalah bahan pakan yangkandungan utamanya berupa karbohidrat yang mana lebih mudah dimetabolisme daripada energi yang berasal dari lemak (Tobing.L.R, 2000).
Bahan pakan sumber energi antaralain jagung, sorghum, beras, dedak padi, hijauan, serta minyak yang merupakan sumber energi yang berasal dari lemak yang berbentuk cairan (Anggorodi.R, 2006).
Dedak padi atau sekam padi merupakan hasil ikutan bahan penggiling beras yang masih bisa dimanfaat sebagai bahan pakan sumber energi yang berbentuk bubuk (tepung) (Trobos, 2007).
Bahan-bahan pakan sumber mineral antara lain tepung tulang, tepung kulit kerang, mineral supplement (Hendaka, et al. 2008).
Bahan-bahan sumber vitamin lebih banyak dalam bentuk teblet atau bubuk yang diproduksi secara modern oleh indutri-iondustri bidang peternakan (Trobos, 2008).
Bahan-bahan pemalsu pakan  merupakan bahan-bahan yang bentuk, tekstur hampir sama dengan bahan pakan yang dipalsukan akan tetapi satu hala yang sulit untuk dipastikan yaitu bau (Parrakkasi.A. 2003).
Hijauan merupakan bahan pakan utama ternak rumanisia yang merupakan sumber energi yang diperoleh dari pencernaan serat (Parrakkasi.A. 2007).
Bahan pakan yang berasal dari tumbuh- tumbuhan  memiliki  kadar protein dan kadar energi yang cukup tinggi (Irfan anshory,2008).
Pemberian ransum pada ternak adalah untuk menyediakan bahan makanan yang dibutuhkan ternak sehinggga dapat menghasilkan daging, susu dan telur yang menguntungkan bagi peternak (Sutresna Nana, 2001 )..
Tepung ikan merupakan bahan pakan yang superior yang mempunyai kadar protein paling tinggi dari bahan pakan lainnya. (Parning, Mika dan marlan, 2000)

Menentukan Energi dengan Bomb Calorimeter
Bila dedak halus ( lunteh ) di pergunakan dalam unggas, harus di cegah terhadap kemungkinan terjadinya ketengikan autooksidatif. Kalau ketengikan ini terjadi dapat timbul penyakit encephalumalacia pada anak ayam. Lubis ( 1963 ) membedakan dedak halus (lunteh ) dengan dedak halus kampong, dedak halus kampung mengandung lebih banyak serat kasar dari pada lunteh. ( Siregar .s, 1990 ).
Dedak kasar terdiri dari pecah – pecahan kulit gabah, sebagai bahan makanan, mempunyai nilai sangat rendah, kadar proteinnya relatife rendah yaitu 3.1 % dan daya cernanya juga rendah ( Rasya.M, 1995 ).
Zat lemak sebagai sumber energi adalah sangat efisien karena nilai energi lemak 2.25 lebih tinggi dari karbohidrat, namun demikian pemakaian zat lemak di dalam ransum perlu di batasi sekitar 5%, Sebab kelebihan lemak yang terlampau tinggi justru akan menimbulkan efek negatife, antara lain lemak yang tertimbun di sekitar ovarium akan mengganggu ovulasi, sehingga produksi telur akan menurun, dan kelebihan ini sia – sia sebab akan terbuang karena tidak bisa di cerna. ( Anshory.I, 1997 ).
Fungsi zat lemak adalah sebagai sumber energi, seperti halnya karbohidrat dan sebagai pelarut vitamin A,D,E, dan K. sumber lemak terdapat pada bahan seperti bungkil kelapa. Bungkil kelapa merupakan salah satu sumber lemak. Penggunaan lemak nya ransum serta menaikkan nilai energi sampai pada tingkatan yang tidak tercapai bila menggunakan makanan biasa terutama butir-butiran (Nurrohman S,1996 ).
Tepung ikan merupakan sumber protein utama bagi unggas, karena bahan makanan tersebut semua asam-asam amino yang di butuhkan ayam dalam jumlah cukup dan teristimewa. Merupakan sumber lisin dan methionin yang baik. Tepung ikan merupakan salah satu bahan makanan dalam penyusunan ransum ayam sebagai sumber protein hewan atau asam-asam amino di samping unsure-unsur mineral dan vitamin-vitamin (Keenan,1980).
Mineral berguna untuk keperluan pertumbuhan, pembentukan tulang, bereproduksi, dan membantu metabolisme (Anshory,1997 ).
Garam dapur (NaCl) berguna untuk mengatur keseimbangan dalam elektrolit tubuh. Bila ayam kekurangan unsure ini akan berakibat nafsu makan menurun, kanibalisme, bulu nampak suram. Kebutuhan garam di dalam ransum 0,35%-0,5%. Pemberian garam pada ransum dapat merangsang sekresi saliva, gejala devesiansigaram yaitu nafsu makan hilang, bulu kasar, makan tanah, keadaan badan tidak sehat, produksi dan berat badan menurun.
 (Wahju,juju,1985 ).














III.MATERI DAN METODA

3.1. Waktu dan tempat
            Adapun praktikum bahan pakan dan formulasi ransum Di mulai pada hari Senin,tanggal 8 November 2010 sampai tanggal 22 Desember 2010 jam 14.00 s/d selesai yang bertempat di Laboratorium Makanan Ternak,Gedung C lantai 2 Fakultas Peternakan Universitas Jambi.

3.2. Materi
Pengenalan Alat
Alat-alat dan bahan yang digunakan pada saat praktikum Pengenalan Alat adalah : cawan, gelas ukur, tabung reaksi, pipte tetes, termometer, corong tanur, oven, labu distilasi, pembakar bunsen, penjepit tabung reaksi, sikat tabung, cawan porselin, rak tabung reaksi, bucle, labu ukur, artodave, eksikator, neraca empat lengan, titrasi, kacang tanah, lamtoro, rumput mutiara,daun kalapo,rumput gajah,tepung tulang, mengkudu, rumput raja, padi, jagung, batu bata giling, dedak padi, daun stilo, rumput mutiara, daun seduduk, serbuk gergaji, ubi jalar, rumput setaria, rumput gajah, rumput benggala, serta menggunakan pensil, pena, penggaris dan buku-buku dan obat-obatan
Pengenalan Bahan Pakan
            Alat-alat dan bahan yang digunakan pada saat praktikum Pengenalan Bahan Pakan adalah : tepung ikan,tepung kedele,ampas tahu,bungkil kedele,bungkil kelapa sawit,bungkil kelapa,biji jagung,menir,dedak padi,pati ubi,tepung tulang,tepung darah,tepung kulit kerang,pelepah sawit,kulit pisang,bagase tebu,tongkol jagung,kulit jagung,tepung kapur,serbuk kayu,sekam padi,dan serbuk batu bata.
Preparasi Sampel
Alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum Preparasi Sampel adalah feses sapi,feses ayam,rumput gajah,dan rumput benggala.


Analisis Proksimat
Didalam melakukan praktikum analaisis proksimat, adapun bahan yang digunakan antara lain : Penetuan Kadar Air : cawan porselen, eksikator, oven 105oC, penjepit dan neraca analitik. Penentuan Kadar Abu : cawan porselen, eksikator, tanur, penjepit, neraca analitik, pembakar bunzen. Penentuan Protein Kasar : labu dekstruksi, labu destilasi, destilator, pemanas listrik, labu erlenmeyer 250 ml, labu erlenmeyer 500 ml, biuret, corong, pipet, gelas ukur, neraca analitik, batu didih, katalis campuran, H2SO4 pekat, H2SO4 0,3 N, NaOH 0,3 N, dan indikator campuran. Penentuan Lemak Kasar : soxhlet, kertas saring bebas lemak, sarung tangan karet, kapas bebas lemak, oven, batu didih, eksikator, neraca analitik, pinset, pelarut, dan corong. Penentuan Serat Kasar : gelas piala, cawan porselen, corong bucher, oven 105oC, pompa vakum, tanur, pemanas listrik, penjepit, kertas saring No. 41, H2SO4 0,3 N, NaOH 1,5 N, dan aseton.

Formulasi Ransum
             Alat yang digunakan dalam praktikumFormulasi Ransum adalah tabel kebutuhan ternak,tabel komposisi bahan makanan ternak,dan kalkulator.

Mencampur Ransum
Alat yang digunakan pada praktikum Mencampur Ransum adalah tabel kebutuhan ternak, tabel komposisi bahan makanan ternak, Sedangkan bahan yang digunakan adalah Tepung Ikan, Dedak Padi, Minyak Sayur, Jagung Giling,  Bungkil Kelapa Sawit, dan Premiks.

Menentukan Energi dengan Bomb Calorimeter
Di dalam praktikum menentukan energi bruto dengan oxygen bomb calorimeter, adapun alat dan bahan yang digunakan antara lain : Unit Bomb Calorimeter, Tabung Oksigen, Termometer, Alat Pembuat Pellet, Kawat Platina, Larutan Methyl Orange dan Larutan Na2CO3.

3.3. Metoda
Pengenalan Alat
            Adapun cara kerja yang di lakukan dalam praktikum Pengenalan Alat adalah  dengan cara melihat hijauan makanan ternak lalu mengklasifikasi dan di lanjutkan denagn menggambar hijauan makana ternak dan menggambar alat-alat laboratorium dan memberi fungsi-fungsi pada tiap-tiap alat laboratorium yang ada.yang terakhir mencatat tentang feed dditve seperti bahan yang terkandung di ddalam feed additive dan vitamin pelengkap. 

Pengenalan Bahan Pakan
Adapun cara kerja yang di lakukan dalam praktikum Pengenalan Bahan Pakan adalah   dengan cara melihat bahan makanan ternak lalu mengklasifikasi dan di lanjutkan dengan melihat teksturnya,bau,rasa,dan warna dari suatu bahan pakan ternak.

Preparasi Sampel
Adapun cara kerja yang di lakukan dalam praktikum Preparasi Sampel adalah dengan membuat 2 bentuk bahan,yaitu bahan basah dan bahan kering kemudian seterusnya ditimbang dan dihitung berapa berat akhirnya.

Analisis Proksimat
Di dalam melakukan praktikum Analisis Proksimat ada beberapa cara kerja yang perlu diperhatikan : Penentuan Kadar Air, adapun cara kerjanya adalah cawan porselen yang telah dicuci bersih, dikeringkan di dalam oven selama 1 jam dengan temperatur 105 oC. kemudian didinginkan di dalam eksikator sekitar 10-20 menit dan ditimbang ( C ). Sampel dihitung sebanyak 0,5-1 gram ( D ) dan dimasukkan ke dalam cawan porselen. Kemudian cawan dan sampel tersebut dikeringkan dalam open 105oC selama 112-16 jam. Cawan dan sampel ( E ) dikeluarkan dari oven dan didinginkan dalam eksikator selama 10-20 menit sampai diperoleh berat tetap. Penentuan Kadar Abu, adapun cara kerjanya antara lain : cawan porselen yang telah dicuci bersih, dikeringkan di dalam oven sekitar 1 jam pada temperatur 105o C. kemudian didinginkan dalam eksikator sekitar 10-20 menit dan ditimbang dengan teliti ( F ). Sampel ditimbang dengan teliti sebanyak 3 gram untuk sampel hijauan atau 5 gram untuk kosentrat ( G ) dan dimasukkan ke dalam cawan porselen. Pijarkan sampel yang terdapat dalam cawan porselen hingga berasap. Bakar cawan porselen berisi sampel dan tanur bersuhu 600oC. biarkan sampel terbakar selama 3-4 jam atau sampai warna sampel berubah menjadi putih semua. Setelah sampel bewarna putih semua, kemudian dinginkan dalam tanur pada suhu 120oC sebelum dipindahkan ke dalam eksikator. Setelah dingin timbang dengan teliti ( H ).
Penentuan Protein Kasar, adapun cara kerjanya antara lain : timbang sampel dengan teliti sejumlah 0,3 gram ( I ) dan masukkan kedalam tabung destruksi. Tambahkan kira-kira 0,2 gram katalis campuran dan 5 ml H2SO4 pekat. Panaskan campuran tersebut dalam lemari asam. Perhatikan proses destruksi selama pemanasan agar tidak meluap. Destruksi dihentikan bila larutan sudah menjadi hijau terang atau jernih, lalu dinginkan dalam lemari asam. Larutan dimasukkan ke dalam labu destilasi dan diencerkan dengan 60 ml aquades. Masukkan beberapa buah batu didih. Tambahkan pelan-pelan melalui dinding labu 20 ml NaOH 40 % dan segera hubungkan dengan destilator. Suling ( NH3 dan air ) ditangkap oleh labu erlenmeyer yang berisi 25 ml H2SO4 0,3 N dan 2 tetes indikator campuran ( methyl red 0,1 % dan bromcresol green 0,2 % dalam alkohol ). Penyulingan dilakukan hingga nitrogen dari cairan tersebut tertangkap oleh H2SO4  yang ada di dalam erlenmeyer ( 2/3 dari cairan yang ada pada labu destilasi menguap atau terjadi letupan-letupan kecil atau erlenmeyer mencapai volume 75 ml ). Labu erlenmeyer berisi sulingan diambil dan dititer kembali
dengan NaOH 0,3 N ( J ). Perubahan biru ke hijau menandakan titik akhir titrasi. Bandingkan dengan titer blanko ( K ).
            Di dalam praktikum analisis proksimat ini adapun cara kerja dari Penentuan Lemak Kasar antara lain : timbang sampel dengan teliti sebanyak 1 gram 9 L ) dan bungkus dengan kertas saring bebas lemak. Keringkan dalam oven 105cC selama 5 jam, dinginkan dalam eksikator dan timbang ( M ). Sampel dimasukkan kedalam tabung ekstraksi soxhlet. Alat soxhlet diisi dengan pelarut lewat kondensor dengan corong. Alat pendingin dialirkan dan panas dihidupkan. Ekstraksi berlangsung selama 16 jam sempai pelarut pada alat soxhlet terlihat jernih. Sampel dikeluarkan dari alat soxhlet dan keringkan ke dalam oven 105oC selama 5 jam, kemudian dinginkan dalam eksikator dan timbang ( N ).
            Adapun cara kerja dari Penentuan Serat Kasar antara lain : keringkan kertas saring whatman No. 41 di dalam oven 105OC selama 1 jam dan timbang (O). timbang dengan teliti 1 gram ( P ) sampel masukkan kedalam gelas piala. Tambahkan 50 ml H2SO4 0,3 N dan didihkan selama 30 menit. Cairan disaring melalui kertas saring yang telah diketahui beratnya didalam corong buchner yang telah dihubungkan dengan pompa vokum. Kertas saring bersama residu dicuci berturut-turut dengan 50 ml H2O panas, 50 ml H2SO4 0,3 N, 50 ml H2O panas dan aseton. Kertas saring berisi residu dimasukkan kedalam cawan porselen bersih dan kering dengan menggunakan oven. Cawan berisi sampel yang dikeringkan ke dalam oven 105oC sampai didapat berat yang konstan, didinginkan dalam eksikator dan ditimbang ( Q ). Pijarkan sampel dalam cawan hingga tak berasap. Kemudian cawan bersama isinya dimasukkan ke dalam tanur 600oC selama 3-4 jam. Setelah isi cawan berubah menjadi abu yang bewarna putih, diangkat, didinginkan dan ditimbag ( R ).

Formulasi Ransum
           Adapun cara kerja dalam Formulasi Ransum adalah tentukanlah jenis ransum yang akan disusun.Kenudian tentukanlah bahan pakan yang akan digunakan.Tentukanlah kandungan zat makanan masing-masing bahan pakan penyusunan ransum terpilih pada tabel komposisi zat makanan bahan pakan.Tentukanlah jumlah ransum yang akan disusun dan perkiraan persentase penggunaan setiap bahan pakan dari jumlah total bahan pakan.Hitung kontribusi zat gizi dari masing-masing jenis bahan pakan.Persentase setiap bahan makanan dapat diubah sampai sesuai dengan kebutuhan zat gizi dari ransum yang dibuat.Kemudian bandingkan hasil perhitungan ransum yang dibuat dengan kebutuhan ternak yang bersangkutan.Misalnya kandungan protein,lemak,serat kasar,EM atau TDN-nya.

Mencampur Ransum
Sedangkan cara kerja dalam mencampur ransum adalah pertama-tama kelompokkan dulu bahan-bahan makanan yang jumlahnya sedikit dan teksturnya halus (misalnya garam,  premix, dan CaCo3) dan campurkan sampai merata.
Kemudian jika menggunakan dedak padi dan minyak sayur maka campurkan keduanya terlebih dahulu.
Setelah itu tambahkan tepung ikan, bungkil kedele, jagung dan bahan lainnya dan campurkan semua bahan tersebut sampai merata dan menjadi homogen.

Menentukan Energi dengan Bomb Calorimeter
Adapun cara kerja dari praktikum menentukan energi bruto dengan oxygen bomb calorimeter Yaitu : sampel dalam bentuk pellet ditimbang 0,5–1 gram, kemudian dimasukkan kedalam cawan bomb dan disentuhkan kawat platina sepanjang 10 cm pada sampel dalam tabung bomb, terus diisi dengan oksigen sebanyak 25 atm. Tabung bomb dimasukkan kedalam buchet yang sudah diisi air sebanyak 2 liter kemudian ditulis, serta suhu distabilkan dengan memutar tombol pemutar selama 5 menit, setelah itu dicatat sebagai suhu awal. Sampel dibakar dengan menekan tombol pemutar pada alat Parr Ignation, biarkan temperatur naik sampai stabil (lebih kurang 5 menit), setelah itu suhu dicatat sebagai suhu akhir, kemudian buka calorimeter dan keluarkan tabung bomb dan buang oksigen dari bomb, lalu cuci bagian dalam tabung dan cawan bomb dengan menyemprotkan aquadest dan beri beberapa tetes larutan methyl orange. Titer dengan larutan Na2CO3 sampai berubah warna dan catat volume titrasi yang dipakai lalu kawat yang dibakar diukur dengan sekala dari kawat yang tidak terbakar.


  



IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengenalan Alat dan Bahan

Dari hasil praktikum tentang hijauan makanan ternak maka hasil yang di dapatkan sesuai dengan tabel di bawah ini.

hijauan
keterangan
Callopogonium mnocoides



filum : spermatohyta
Class : monocyhedanceace
ordo : gumiflora
family : graminae
genus : callopogonium
spesies : Callopogonium monocoides
Putri Malu


kelas : Mimosa
genus :  Mimosa pudica
Zea mays

kingdom : tracheobionta
superdivisio:spermatophyta
divisi:magnoliophyta
class : liliopsida
subclass:commelinidae
ordo:poales
family : peaceace
genus : zea
spesies ; Zea mays
Rumput Mutiara

genus : Hedyotis
spesies : Hedyotis corymbosa
Manihot


genus : manihot
Spesies : Manihot utilissima
Arachia hipogea


Kingdom:Plantae
Divisio:Magnoliophyta
Ordo:Fabates
family : febaceace
genus : arachis
spesies : Arachia hipogea
Pannisetum purpereum



Kigdom:Plantae
Divisi:Magnoliophyta
Class:Liliopsida
family ; graminaea
genus : pennisetum
spesies : Pennisetum purpereum
Cabe-cabean

filum ; leguminosa
kelas : Graminae
Lauchena leuchecoppala


family :  graminiae
genus ; lauchena
spesies : Lauchena leuhecophala
Rumput setaria


Kingdom:Plantae
Subkingdom:trachiobionda
Divisio:magnoliophyta
ordo : poacea
genus ; setaria
spesies ; Setaria falmopolia
Stylosantes humillis
genus ; stylosantes
spesies ; Stylosantes humillis

King grass




kingdom ; plantae
kelas : liliopsid
family : poaceace
genus : king
spesies ; King grass


4.2. sumber protein
pada praktikum yang tentang sumber protein mahasiswa meneliti terus mengklasifikasi yaitu tentang bunkil kedeke yang merupakan sumber protein berwarna kuning dan bungkil jagung sumber karbohidrat warna kuning taoi sediki orange,bungkil inti sawit ini merupakan limbah dari pembuangan sawit yang di manfaatkan merupakan sumber protein berwarna hitam’yang terakhir tepung ikan merupakan sumber  protein warna kekuninagan berabau ikan.jenis di atas menurut pendapat ( gildert 2003 ) yang menyatakan sumber yang baik untuk ternak bila di manfaatkan dengan baik  maksudnya di campurkan denagan ransum untuk makanan ternak,

4.4. feed additive dan vitamin
    1.     EGG STIMULANT
Kegunaan                :   Meningkatkan produksi telur sampai 37 %
bentuk                     :   butiran kecil dan halus
warna                      :   coklat
                                        cara pemakaian       :   1 gram liter air minum atau 1 sendok plastik putih tiap 1         liter air minum
                                   kandungan               :   vitamin A, D3, E
                                   produsen                 :    Medion, BandungIndonesia

2.Turbo
kegunaan                 :   Meningkatkan dan memperpanjang masa produksi telur dan menambah kesuburan
bentuk                     :   Butiran kecil dan halus
warna                       :   kuning tua
cara pemakaian       :   5 gram tiap 1 liter air minum, dicampur kedalam 2 kg ransum
kandungan               :   vitamin A,E,K
produsen                  :   Medion,  BandungJakarta

3. NEOBRO
kegunaan                :     merangsang pertumbuhan ayam pedaging
pemakaian              :    ayam umur 0 -6 minggu 1 gram tiap 2 liter air minum
kandungan              :    lysine. sodium salicylate, vitamin A, E
bentuk                    :    butiran
warna                     :    coklat
produsen                :    Medion, BandungJakarta

4. COXY
kegunaan               :    kolera
bentuk                    :    butiran keci dan halus
warna                     :    orange muda
cara pamakaian     :    3,75 gram tiap 1 liter air minum
kandungan             :    sodium sulaqinoxaline, vitamin A
produsen                :    Medion, BandungJakarta

5. MULTIFIT
kegunaan               :    pertumbuhan dan produksi
betuk                     :    butiran halus
warna                    :    coklat
kandungan            :    vitamin A,D,E,K dan B
Produsen               :    PT. Pyridam, Jawa Barat

6.THERAPY
Kegunaan              :    pengobatan
bentuk                   :    butiran halus
warna                    :    coklat
kandungan            :    itamin A dan K
cara pemakaian     :    5 hari sebelum unggas dipotong
produsen               :    Medion, BandungJakarta




4.5. alat-alat laboratorium
 Setelah diamati dan gambar  maka hasil yang di dapatkat sebagai berikut
Hasil yang di peroleh pada pengenalan alat praktikum adalah
1. Gelas Piala : Mengukur larutan dalam jumlah tertentu
2. Rak tabung reaksi : Sebagai tempat tabung reaksi
3. Termometer : Untuk mengukur suhu larutan
4. Corong Bunchen  : Menuangkan larutan tabung reaksi agar tidak tumpah
5. Bunsen : Untuk memanaskan  suatu larutan
6. Tempat pembakran : Untuk menyanagga tempat pembakaran
7. Batang pengaduk : Untuk mengaduk atau mencampur larutan
8. Eksikator : Untuk mendingikan sample
9. Kondensor : Untuk membuat akuades
10. Penjepit : Menjepit tabung reaksi
11.kertas saring : Untuk menyaring larutan
12. Oven : Untuk membuat bahan kering
13. Biuret : Untuk melakukan titrasi
14. Cawan Porselen : Untuk menggiling suatu bahan tertentu
15. Neraca : Untuk menimbang bahan pakan yang akan di analisis
16. Pompa Vacum : Untuk memompa cairan setelah di saring
17. Labu Erlenmeyer : Untuk mereaksikan zat cair
18. Pipet Tetes : Mangambil suatu larutan tertentu
19. Gelas Ukur : Mengukur larutan dalam jumlah kecil
20. Cawan Petri : Tempat memanaskan larutan

 ( Mathius2006) menyatakan bahwa setiap alat –alat lab memiliki fungsi masing – masing dan mempunyai peranan yang berbeda-beda.

Pakan Sumber Protein
           
            Yang termasuk pakan sumber protein hewani dalam bahan yang kami praktikumkan adalah tepung ikan.Dengan bentuk fisik berbentuk tepung,bertekstur halus,berwarna coklat,dan berbau amis. Hal ini sama seperti yang dikemukakan oleh Bagas,2006
            Dan yang termasuk bahan pakan sumber protein nabati adalah tepung kedele,ampas tahu,bungkil kedele,bungkil kelapa,dan bungkil inti sawit.Bentuk dari bahan –bahan ini rata-rata adalah butiran kasar,dengan tekstur beragam mulai dari kasar samapai berstekstur halus,berwarna kuning sampai kecoklatan,dan berbau wangi samapai asam.Bahan-bahan ini banyak sekali protein nabati yang baik untuk pertumbuhan embrio ternak,seperti yang dikemukakan oleh Arian,2009.
No.
Bahan Pakan
Bentuk Fisik
Tekstur
Warna
Bau
1.
Tepung Ikan
Tepung
Halus
Coklat
Amis
2.
Tepung Kedele
Tepung
Halus
Kuning
Kedele
3.
Ampas Tahu
Remah-remah
Lembut
Putih kekuningan
Agak asam
4.
Bungkil kedele
Butiran
Kasar
Kuning kecoklatan
Khas kedele
5.
Bungkil kelapa
Butiran
Kasar
Coklat tua
Wangi
6.
Bungkil Inti Sawit
Butir Kasar
Kasar
Coklat tua
Wangi

Pakan Sumber Energi
            Yang termasuk pakan sumber energi disini dapat terbagi menjadi dua bagian,yaitu bahan pakan sumber energi yang berbentuk biji-bijian dan bahan pakan sumber energi berbentuk tepung.Bahan pakan sumber energi yang berbentuk biji-bijian dapat digolongkan menjadi biji jagung dan menir.Kalau jagung memiliki panjang 2-3mm,lebar 1mm,berat 500gr,berwarna kuning oranye dan berbau apek.Sedangkan pada menir berbentuk butiran,dengan ukuran panjang 5mm,lebar 2mm,berat 500gr,berwarna coklat,dan berbau khas padi. Sama halnya dengan yang dikemukakan oleh Dion,2000.Dan ada bahan pakan sumber energi yang berbentuk tepung.Ini dijumpai pada dedak padi dan pati ubi seperti yang dikemukakan oleh Dina,2001.Dedak padi yang kami temui berbentuk serbuk,berwarna coklat muda,dan berbau apek.Sedangkan pati ubi berbentuk halus dengan warna putih dan berbau ubi.
a.Berbentuk biji-bijian

No.
Bahan Pakan
Bentuk Fisik
Ukuran
Berat(gr)
Warna
Bau
Panjang
Lebar
1.
Biji Jagung
Butiran
2-3mm
1mm
500gr
Kuning oranye
Apek
2.
Menir
Butiran
5mm
2mm
500gr
coklat
Khas Padi


                   b.Berbentuk Tepung

No.
Bahan Pakan
Bentuk Fisik
Warna
Bau
1.
Dedak padi
serbuk
Coklat muda
Apek
2.
Pati ubi
halus
putih
Khas ubi
           


Pakan Sumber Mineral
           
            Yang dimaksud bahan pakan sumber mineral adalah bahan pakan yang mengandung Mineral lebih dari 80% (Adrianto,2001).Mineral yang dimaksud disini adalah seperti Kalsium(Ca),Seng(Zn),Sulfur(S),Kalium(K),dan lain sebagainya.Biasanya bahan pakan sumber mineral ini sangat baik untuk pertumbuhan ternak yang baru lahir atau ternak yang sedang dalam masa pertumbuhan.Dan didalam praktikum ini kami menemukan bahan pakan yang termasuk kedalam bahan pakan sumber mineral adalah tepung tulang,tepung darah,dan tepung kulit kerang.Tepung tulang memiliki bentuk seperti tepung,berwarna merah dan berbau amis.Sama halnya seperti tepung tulang,tepung darah juga memiliki sifat yang sama.Sedangkan pada tepung kulit kerang memiliki bentuk seperti tepung yang halus,berwarna putih,dan berbau khas cangkang.

No.
Bahan Pakan
Bentuk Fisik
Warna
Bau
1.
Tepung tulang
Tepung
Merah
Agak amis
2.
Tepung darah
Tepung
Merah
Amis
3.
Tepung kulit kerang
Tepung halus
Putih
Bau khas cangkang



Pakan Sumber Vitamin

            Bahan pakan sumber vitamin adalah bahan yang mengandung vitamin lebih banyak bila dibandingkan dengan bahan pakan yang lainnya.Dan disini kami hanya menemukan satu bahan pakan yang banyak mengandung provitamin A(beta karoten),yaitu jagung.Jagung,disamping sumber energi,juga memiliki banyak sekali karoten di dalamnya.Ini baik untuk kesehatan mata ternak dan menjaga kesehatan membran mukosa lainnya. ( Surtino 2000 ).Jagung memiliki bentuk butiran,dengan warna kuning oranye,mempunyai rasa asin dan berbau apek.


                                                               
Bahan Pakan Asal Limbah Pertanian

            Bahan pakan asal limbah pertanian adalah bahan pakan yang sudah tidak berguna dalam industri atau pertanian.Di mata peternak,bahan pakan asal limbah pertanian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak mereka.Seperti contoh,bagase tebu,itu banyak sekali mengandung glukosa sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pakan sumber energi.Seperti yang dikemukakan oleh  Dewi,2001. Dalam praktikum ini,kami menemukan banyak sekali bahan pakan ternak yang berasal dari limbah pertanian.Seperti pelepah sawit,kulit pisang,bagase tebu,tongkol jagung,dan kulit jagung.Semua bahan tersebut berasal dari limbah rumah tangga,kecuali pelepah sawit.Bahan tersebut berbentuk batangan,berwarna hijau kekuningan dan berbau khas masing-masing asal limbah.

No.
Nama Limbah
Asal Limbah
Bentuk Fisik
Warna
Bau
1.
Pelepah sawit
agroindustri
batangan
Hijau kekuningan
Seperti tebu
2.
Kulit pisang
Rumah tangga
Kulit buah
Hijau muda
Khas pisang
3.
Bagase tebu
Rumah tangga
batangan
Putih kekuningan
Manis
4.
Tongkol jagung
Rumah tangga
batangan
Kuning
Khas jagung
5.
Kulit jagung
Rumah tangga
lembaran
Hijau muda
Jagung






Bahan Palsuan

            Yang dimaksud bahan palsuan adalah bahan yang dapat diberikan ke ternak tapi sangat sedikit mengandung zat nutrien.Tapi disisi lain,bahan palsuan ini dapat membuat ternak yang memakannya menjadi kenyang dan membantu proses pencernaannya. Sama seperti yang diungkapkan oleh Zulfikar,2008.

No.
Nama Bahan
Warna
Bentuk
1.
Tepung kapur
putih
Tepung
2.
Serbuk kayu
Coklat muda
Serbuk
3.
Sekam padi
Kuning muda
Kasar
4.
Serbuk batu bata
Merah kehitaman
Halus



Preparasi Sampel

Feses Sapi
Feses sapi kami ambil yang basah sebanyak 800gr.Kemudian kami jemur sehingga kandungan airnya mengering dan berat akhirnya 500gr.Kadar air yang berkurang sebanyak 37,5% dan kadar bahan keringnya sebanyak 62,5%. Murwani et al., (2009)
           
Feses Ayam
            Feses ayam kami ambil sebanyak 250gr.Selanjutnya kami jemur sehingga beratnya mencapai 100gr.Dengan kadar air yang berkurang sebanyak 60% dan kadar bahan kering sebanyak 40%.(Defano,2001)

Rumput Gajah
            Kami mengambil rumput gajah yang segar sebanyak 300gr.Kemudian kami jemur sehingga beratnya menjadi 150gr.Dengan kadar air sebanyak 50% dan kadar bahan kering sebesar 50%. Dina,2001


Rumput Benggala
           
            Kami mengambil rumput benggala sebanyak150 gr.Kemudian kami jemur sehingga beratnya mencapai 100gr.Dengan kadar air sebanyak 60% dan kadar bahan kering sebesar 40%. Arian,2009.

Analisis Proksimat
Pada Analisis Proksimat,setelah kami melakukan percobaan maka kami didapat hasil seperti yang tercsntum dibawah ini:

Penentuan Kadar Air

No.
Bahan
C (gr)
D (gr)
E (gr)
KA(%)
BK(%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.

7.
8.
9.
10.
11.
BIS
Tepung Ikan
Jagung Halus
Dedak
Bungkil Kedele
Tepung Kulit Kerang
Tepung Darah
Tepung Tulang
Poles
Tepung Kedele
Menir
37,4310
39,5898
33,7622
37,1681
35,7321
36,76951

39,2018
40,4153
36,7695
39,4940
37,6650
1,0003
1,0003
1,0009
1,0006
1,0007
1,0000

1,0005
1,0002
1,0006
1,0011
1,0006
38,3880
40,5513
34,6929
38,1148
37,6871
41,2812

40,1998
41,2812
37,7473
40,2133
38,6442
4,3287
3,8788
7,0137
5,3867
4,6268
2,3500

0,2499
13,4273
2,2786
18,1490
1,6890
95,6713
96,1212
92,9865
94,6135
95,3735
97,6500

99,7501
86,5781
97,7211
71,8510
98,3110

                                   
   Defano (2000) menyatakan ditiap bahan pakan yang paling kering sekalipun,masih terdapat kandungan air walaupun dalam jumlah yang kecil.Bahan yang paling banyak mengadung kadar air adalah  tepung kedele dengan nilai 18,1490 dan yang memiliki berat kering paling besar adalah tepung darah dengan nilai 99,7501.Kadar bahan kering ini pun dapat berubah-ubah,tergantung dari suhu dan kelembaban dari suatu wilayah ternak itu dipelihara.

Penentuan Kadar Abu

NO
Bahan
F(g)
G (g)
H (g)
KA (%)
1
B.I.S
37,4297
5,0002
37,6164
3,7934
2
Tepung Ikan
39,5850
5,0000
41,2039
32,3741
3
Jagung Giling
33,7574
5,0002
33,9000
14,8518
4
Ddak Halus
37,1642
5,0007
37,9300
15,3100
5
Bungkil kedelai
36,7296
5,0002
37,1394
8,2000
6
Tepung .k. kerang
36,7559
5,0004
41,4016
92,9000
7
Bungkil kelapa
39,1977
5,0006
39,6128
8,3000
8
Tepung tulang
40,4124
5,0002
45,2165
96,0800
9
Poles
40,2985
5,0005
40,5047
4,1200
10
Tepung kedelai
39,4958
5,0007
39,7178
4,4393
11
Menir
37,6605
5,0010
37,6957
0,7038

Kadar Abu (%) = X 100%
Karra(2007)menyatakan bahwa pemanasan di dalam tanur adalah dengan suhu 400-600 derajat Celcius dan Halim(2006)menyatakan bahwa zat anorganik yang tertinggal di dalam pemanasan dengan tanur disebut dengan abu(ash).Disini,bahan pakan ternak yang paling banyak mengandung kadar abu adalah  tepung kulit kerang dengan persentase 92,9000.Ini disebabkan karena tepung kulit kerang memang terdiri bahan anorganik yang terdiri dari mineral-mineral seperti kapur.


Penentuan Kadar Protein Kasar
NO
Bahan
I (gr)
J (gr)
K (gr)
PK (%)
1
Bungkil Inti Sawit
0.3002
26.0
26.4
3.5139
2
Tepung Ikan
0.3001
25.6
26.4
7.0303
3
Jagung Giling
0.3005
26.5
26.4
-0.8777
4
Dedak Halus
0.3000
25.8
26.4
5.2745
5
Bungkil Kedelai
0.3006
20.5
26.4
51.7624
6
Tepung Kulit Kerang
0.3005
26.7
26.4
-2.6310
7
Bungkil Kelapa
0.3002
24.5
26.4
16.6915
8
Tepung Tulang
0.3006
26.3
26.4
0.8773
9
Poles
0.3003
26.2
26.4
1.7569
10
Tepung Kedelai
0.3006
22.7
26.4
32.4611
11
Menir
0.3001
26.3
26.4
0.8787

                                                  
Protein kasar (%) = X 100%
Anggorodi (2005) menyatakan protein adalah esensial bagi kehidupan karena zat tersebut merupakan protoplasma aktif dalam semua sel hidup.Bahan yang paling banyak mengandung protein kasar adalah bungkil kedele.Karena nya,bungkil kedele mengandung asam amino paling tinggi dari bahan yang kami praktikumkan.




Penentuan Lemak Kasar
NO
Bahan
L (gr)
M (gr)
N (gr)
LK (%)
1
Bungkil Inti Sawit
1.0009
2.0676
2.0273
4.0238
2
Tepung Ikan
1.0005
2.0642
2.0212
4.2978
3
Jagung Giling
1.0006
2.0813
2.0423
3.8977
4
Dedak Halus
1.0001
2.0625
2.0507
1.1799
5
Bungkil Kedelai
1.0006
2.0040
1.9938
1.0194
6
Tepung Kulit Kerang
1.0006
2.1984
2.1977
0.0699
7
Bungkil Kelapa
1.0000
2.0877
2.0040
8.3710
8
Tepung Tulang
1.0009
2.1616
2.1307
3.0872
9
Poles
1.0004
2.0916
2.0268
6.4774
10
Tepung Kedelai
1.0001
2.0785
1.7586
31.9868
11
Menir
1.0002
2.0827
2.0926
0.0099

Lemak kasar % = X 100
Buckle (1985) menyatakan sifat-sifat lemak yaitu tidak larut dalam air dan lemak adalah campuran trigliserida dalam bentuk padat dan terdiri dari suatu fase padat dan fase cair. Khairul(2009)menyatakan bahwa lemak kasar yang dihasilkan dari penentuan lemak kasar adalah ekstraksi dari klorofil,xanthofil,dan karoten. Bahan yang mengandung banyak lemak kasar adalah tepung kedele.Ini dikarenakan tepung kedele merupakan sumber lemak nabati.


Penentuan Serat Kasar
NO
Bahan
O (gr)
P (gr)
Q (gr)
R (%)
SK(%)
1
Bungkil Inti Sawit
1.0857
1.0009
23.5202
22.3179
11.6495
2
Tepung Ikan
1.1253
1.0004
21.4675
20.3365
0.5698
3
Jagung Giling
1.0111
1.0000
25.8481
24.7754
6.1600
4
Dedak Halus
1.1060
1.0000
25.5897
24.2745
20.9200
5
Bungkil Kedelai
1.0546
1.0003
18.5637
17.5030
0.6098
6
Tepung Kulit Kerang
1.0159
1.0006
23.5205
22.4213
8.3250
7
Bungkil Kelapa
1.0634
1.0000
22.4765
21.3925
2.0600
8
Tepung Tulang
1.0695
1.0001
23.4297
22.3908
3.0597
9
Poles
1.0312
1.0001
20.8335
19.7857
1.6598
10
Tepung Kedelai
1.0523
1.0000
23.4759
22.3948
2.8800
11
Menir
1.0972
1.0008
25.3453
24.2826
3.4472

Serat  kasar  =  X 100%
Serat kasar   = Q-R-O  X 100%
                                      P
                              = 25.8481 – 24.7754 – 1.0111   x 100%
                                                1.0000
                              = 6.1600%

Serat kasar terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin. Selulosa dan hemiselulosa merupakan komponen dinding sel tumbuhan dan tidak dapat dicerna oleh ternak monogastrik. Hewan ruminansia mempunyai mikroorganisme rumen yang memiliki kemampuan untuk mencerna selulosa dan hemiselulosa. Chandra(2001).

Penentuan Kadar BETN
 BETN Jagung Giling (%) = 100% - (%AIR + %ABU + %PK + %LK + %SK)
       = 100% - ( 7.0137 + 2.8519 + -10.8700 + 3.8977 + 0 )
       = 100% - 12.8933
       = 87.1067 %

Susi(2001) menyatakan bahwa bahan ekstrak tanpa nitrogen adalah kandungan zat makanan dikurangi persentase air,abu,protein kasar,lemak kasar,dan serat kasar.Kadar Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen dihitung sebagai nutrisi sampingan dari protein.
Formulasi Ransum
Setelah praktikum Formulasi Ransum,maka didapat hasil seperti yang dibawah ini :
Tabel Komposisi Bahan Makanan Ternak
Bahan Pakan
Penggunaan
PK (%)
SK (%)
EM(kkal/kg)
LEMAK(%)
Tepung Ikan
BIS
Jagung
Dedak
Minyak Sawit
Premiks
29
11
20
33
<5
<2
55,39
16,91
6,93
8,33
-
-
0,57
11,64
1,96
22,31
-
-
2640
1525
3430
1630
800
-
11,67
9,35
4,32
9,25
10,0
-
Jumlah
100
22,39
9,0893


Kebutuhan(%)

22-24
5-8
2500-2800
6-9
Tabel Formulasi Ransum
Bahan Pakan
Penggunaan
PK (%)
SK (%)
EM(kkal/kg)
LEMAK(%)
Tepung Ikan
BIS
Jagung
Dedak
Minyak Sawit
Premiks
30
10
40
16
2
2
16,61
1,69
2,78
1,33
-
-
0,18
1,17
0,78
3,57
-
-
792
152,5
1372
260,8
16
-
3,50
0,93
1,72
1,48
0,2
-
Jumlah
100
22,41
5,7
2577,3
7,83
Kebutuhan(%)
100
22-24
5-8
2500-2800
6-9


Hasil yang saya coba ini dapat berubah-ubah,sesuai kebutuhan ternak.Tapi jumlah kebutuhan nya harus 100% agar hasilnya tepat,tidak ada zat gizi yang lebih besar atau tidak. Sari(2001).Yang jelas,bahan sumber energi harus menguasai sekitar 80% dari zat yang kita formulasikan.Agar pertumbuhan ternak yang kita beri makan tercukupi. Pakan pada ternak dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu hijauan dan konsentrat.
Persentase hijauan pada pakan paling sedikit 50 % dari total kebutuhan pakan yang diberikan, oleh karena itu sebagian besar pakan mengandung serat kasar sehingga pencernaannya spesifik dan berbeda dengan ternak lambung tunggal (non-ruminansia)
Ø  Dalam penyusunan ransum ruminansia yang sangat diperhatikan adalah jumlah energi dan protein.
Ø  Mineral yang penting adalah kalsium dan fosfor,
Ø  Vitamin yang harus memenuhi kebutuhan adalah vit. D dan A.
Ø  Semua Zat nutrisi  tersebut dapat dipenuhi dari hijauan dan konsentrat yang diberikan dalam pakan ternak ruminansia
Frikha et al. (2009) manajemen pemberian pakan awal periode juga berdampak terhadap performans periode selanjutnya, peningkatan efisiensi pada ayam petelur dapat dilakukan dengan merubah bentuk pakan menjadi pellet dan meningkatkan kandungan energi pakan sampai level tertentu, namun demikian tampaknya hasil penelitian tersebut belum memberikan gambaran ekonomis nilai effisiensi yang diberikan.

Ada beberapa metode untuk menyusun ransum yaitu :
Ø  Metode coba-coba
Ø  Metode Bujur sangkar
Ø  Metode Persamaan
Ø  Linear Programing

METODE PERSAMAAN
Ø  Metode persamaan dapat digunakan untuk menyusun pakan ternak baik ruminansia maupun non ruminansia.
Ø  Persyaratan Metode Persamaan :
1. Dalam metode ini ada dua  sampai tiga zat nutrisi yang harus  di penuhi. 
Ø  Pada      bahasan kali ini hanya dua sehingga digunakan dua persamaan saja.  Misalnya protein dan energi atau dapat juga protein dan mineral.
2. Harus ada dua bahan yang harus dicari untuk memenuhi kekurangan dari bahan   bahan yang sudah ditentukan, satu sebagai sumber protein dan yang lain sebagai sumber energi.
Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam aktivitas tubuh, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup (Winarno 1997).
Douglas et al. (1997) berhasil mempelajari bahwa pada sorghum dengan komposisi tannin rendah dan tinggi hanya memiliki perbedaan kandungan protein dan asam amino yang kecil nilainya.
Di dalam praktikum formulasi ransum adapun hasil yang diperoleh yaitu kita bisa mencampur ransum secara homogen dan mengetahui berapa formulasi ransum yang akan disusun serta mengetahui juga bahan mana yang mengandung banyak zat yang dibutuhkan oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurhayati, (2008) Bahan makanan yang dapat digunakan untuk menyusun ransum dapat dibedakan menjadi bahan makanan sumber energi, bahan makanan sumber protein, bahan makanan sumber lemak, dan  minyak, feed additif, enzymes, dan pemacu pertumbuhan.
Mencampur Ransum
Untuk lebih memahami bahan pakan yang akan di formulasi ransum perhatikan tabel di bawah ini.
Tabel. 1. Formulasi ransum bahan pakan dengan mengetahuai penggunaannya melalui metode coba-coba.
No
Bahan Pakan
Penggunaan(%)
Jumlah Pemakaian
1
Tepung Ikan
30%
600 Gram
2
Bungkil Kelapa Sawit
11%
220 Gram
3
Jagung
39%
780  Gram
4
Dedak Padi
17%
340 Gram
5
Minyak Sawit
1%
20  Gram
6
Premiks
2%
40 Gram

Total
100
2000 Gram

Hasil yang diperoleh dari pratikum ini  yaitu kita bisa mencampur ransum secara homogen dan mengetahui berapa formulasi ransum yang akan disusun d.n berapa kebuthan agar mendaatkan jumlah zat yang terdapat dalam bahan sebagai palatable. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Teja Kaswari (2008).  Yang menyatakan bahwa Ransum yang yang diformulasikan haruslah mendapat cukup palatable agar dapat meransang nafsu makan, karena apabila ransum yang dibuat ditolak oleh ternak maka dapat dikatakan ransum tersebut kurang baik.
          Bahan yang digunakan dalam mencampur ransum terdiri dari sumber protein, energi, dan mineral sehingga akan mempengaruhi kebutuhan tenak itu senderi.

A. Bahan Pakan Nabati
            Bahan pakan nabati adalah bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Bahan pakan nabati ini umumnya mempunyai serat kasar tinggi, misalnya dedak dan daun-daunan yang suka dimakan oleh ternak.
            Disamping itu bahan pakan nabati banyak pula yang mempunyai kandungan protein tinggi seperti bungkil kelapa. bungkil kedele dan bahan pakan asal kacang-kacangan. Dan tentu saja kaya akan energi seperti jagung.

1. Dedak halus
            Dedak sebagai limbah penggilingan padi banyak terdapat di Indonesia karena Indonesia merupakan negara penghasil padi. Pada saat musim panen, dedak mudah diperoleh dan murah harganya.
 Dedak sebagai bahan pakan ternak luas penggunaannya, dapat digunakan sebagai bahan pakan berbagai jenis dan tipe ternak.
            Dedak halus dibedakan antara dedak halus pabrik dan dedak halus kampung. Dedak halus kampung mengandung lebih banyak serat kasar dibandingkan dedak halus pabrik, serta kandungan proteinnya hanya 10,1 %, sedangkan dedak halus pabrik mengandung protein 13,6%.
Sedangkan kandungan lemaknya tinggi, sekitar 13%, demikian juga serat kasarnya kurang lebih 12%. Oleh karena itu penggunaan dedak halus dalam pakan ternak khususnya ayam buras sebaiknya tidak melebihi 45%. Bila beras yang sudah putih digiling kembali, maka akan didapatkan limbah berupa bekatul dengan kandungan proteinnya 10,8%, ini dapat juga digunakan sebagai bahan pakan ayam buras.

2. Jagung
Jagung sebagai pakan ayam buras sudah sejak lama digunakan. Jagung mengandung protein agak rendah (sekitar 9,4%), tetapi kandungan energi metabolismenya tinggi. (3430 kkal/kg). Oleh karena itu jagung merupakan sumber energi yang baik. Kandungan serat kasarnya rendah (sekitar 2%), sehingga memungkinkan jagung dapat digunakan dalam tingkat yang lebih tinggi. Jagung kuning mengandung pigmen karoten yang disebut "xanthophyl". Pigmen ini memberi warna kuning telur yang bagus dan daging yang menarik, tidak pucat.

3. Bungkil Kelapa Sawit
Bungkil kelapa sawit merupakan limbah dari pembuatan minyak kelapa sawit dapat digunakan sebagai pakan lemak. Indonesia kaya akan pohon kelapa sawit dan banyak mendirikan pabrik minyak goreng, sehingga bungkil kelapa sawit banyak tersedia kandungan protein cukup tinggi sekitar 21,6% dan energi metabolis sekitar 1540 - 1745 Kkal/Kg. Tetapi bungkil kelapa sawit ini miskin akan Cysine dan Histidin serta kandungan lemaknya tinggi sekitar 15%. Oleh karena itu penggunaan dalam menyusun ransum tidak melebihi 20%, sedang kekurangan Cysine dan Histidin dapat dipenuhi dari tepung itu atau Cysine buatan pabrik. Secara umum bungkil kelapa sawit berwarna coklat, ada coklat tua ada coklat muda (coklat terang) sebaiknya dipilih bungkil kelapa sawit yang berwarna coklat muda atau coklat terang inilah yang kita pilih. Bungkil Kelapa sawit mudah dirusak oleh jamur dan mudah tengik, sehingga harus hati-hati dalam menyimpan, menurut pendapat dari Irfan anshory, (1997). Bahan pakan yang berasal dari tumbuh- tumbuhan  memiliki  kadar protein dan kadar energi yang cukup tinggi.

B. Bahan Pakan Hewani.
Bahan pakan asal hewan ini umumnya merupakan limbah industri, sehingga sifatnya memanfaatkan limbah. Bahan pakan hewani yang biasa digunakan adalah tepung ikan, tepung tulang, tepung udang dan tepung kerang. Beberapa bahan pakan hewan yang lain adalah cacing, serangga, ulat dll. Bahan-bahan pakan ini ditemukan ayam yang dipelihara secara intensif, cacing, serangga dan lain-lain tidak diberikan. Tetapi bekicotyang banyak didapat di musim hujan, sudah mulai diternakkan, merupakan bahan pakan alternatif yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein pada ransum ayam.

1. Tepung Ikan.
            Tepung ikan merupakan bahan pakan yang sangat terkenal sebagai sumber protein yang tinggi. Tetapi perlu diketahui bahwa kandungan gizi tepung ikan ini berbeda, sesuai dengan jenis ikannya. Disamping jenis ikan, proses pengeringan ikan juga mempengaruhi kualitas tepung ikan tersebut. Ada beberapa macam proses pengeringan, yaitu pengeringan matahari, pengeringan vacum, pengeringan dengan uap panas dan pengeringan dengan pijar api sesaat. Pengeringan matahari merupakan proses termudah dan termurah, tetapi juga  rendah kadar proteinnya. Tepung ikan lokal yang bersumber dari sisa industri ikan kalengan atau limbah tangkapan nelayan dan hanya dijemur dengan panas matahari mempunyai kandungan protein kasar hanya 51-55%. Menurut pendapat dari Parning, Mika dan marlan, (2000) menyatakan bahwa tepung ikan merupakan bahan pakan yang superior yang mempunyai kadar protei paling tinggi dari bahan pakan lainnya.
            Selain sebagai sumber protein dengan asam amino yang baik, tepung ikan juga merupakan sumber mineral dan vitamin. Dengan kandungan gizi yang sangat baik ini maka tak heran bila harganyapun mahal. Oleh karena itu, untuk menekan harga ransum, pengguna tepung ikan dibatasi dibawah 8%. Di Indonesia, tepung ikan ada beberapa macam baik produk lokal maupun import dengan kualitas yang beragam. Dengan kondisi ini peternak disarankan membeli tepung ikan dari penjual yang terpercaya dan sudah biasa menjual tepung ikan yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Sutresna Nana ( 1995 ). Yang menyatakan bahwa Pemberian ransum pada ternak adalah untuk menyediakan bahan makanan yang dibutuhkan ternak sehinggga dapat menghasilkan daging, susu dan telur yang menguntungkan bagi peternak
Untuk memenuhi komposisi formulasi ransum yang apabila dikombinasikan akan mendapatkan hasil yang sempurna atau esensial sehingga dapat memenuhi kebutuhan ternak tersebut hal ini sesuai dengan pendapat dari Retnowati ( 1999 ). Formulasi ransum adalah proses dimana berbagi macam bahan bahan makanan  dikombinasikan dalam proporsi yang esensial untuk ternak dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan fase produksinya .

Menentukan Energi dengan Bomb Calorimeter
Untuk mempermudah mengetahui nilai energi bruto praktikan menggunakan beberapa bahan sampel seperti dedak, bungkil kelapa, rumput gajah, jagung giling yang kemudia dicetak berbentuk pellet dengan menggunakan pellet press dan diukur dengan timbangan analitik dengan kisaran 0,5-1 gram. Selajutnya ditentukan energinya dengan menggunakan unit bomb kalorimeter. Hal ini sesuai dengan pendapat Anshory(1984) bahwa Sebelum sampel dimasukkan kedalam cawan bomb kalorimeter sampel dibentuk pelet dahulu kemudian ditimbang, agar mudah untuk menghitung energinya.
Adapun rumus yang digunakan dalam menentukan energi bruto pada sampel bahan pakan:
Energi (Kal/gram) = (TA – TM) x W – E1 – E2
                                                Berat sampel x % BK
Oleh karena itu, dalam memperoleh hasil energi bruto yang diperoleh dari beberapa bahan sampel yang digunakan dalam pembuatan pelet tersebut maka kita harus mengetahui suhu awal, suhu akhir, berat sampel dan kabar bahan kering dari masing-masing bahan. Perhitungan dari energi ditentukan dulu energi ekuivalen asam benzoat, suhu awal dan suhu akhir, volume titrasi serta jumlah kawat terbakar (Samuel, 1997).


             









V.KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dalam praktikum Bahan Pakan Dan Formulasi Ransum ini dapat ditarik suatu kesimpulan yang mana dalam pengenalan bahan pakan ada beberapa komponen yang perlu diketahui antara lain bahan-bahan pakan yang digunakan mempunyai kandungan utama yang berbeda-beda dari setiap jenis bahan pakan yang dikenalkan atau dibawa saat paraktikum. Masing-masing bahan pakan terdapat sumber protein (hewani dan nabati), sumber energi, sumber mineral, dan sebagainya.
Kebanyakan obat-obatan hewan dan sumber vitamin bukan berasal dari alami akan tetapi lebih banyak campuran bahan/zat kimia yang berasal dari hasil olahan industri  obat-obatan ternak.
Kesimpulan dari praktikum bahan pakan fornulasi ransum adalah kadar air yang paling tinggi dari sample pakan ternak adalah ampas tahu, dalam penentuan kadar abu yang paling tinggi kadar abunya sample pakan tepung ikan, dalam penentuan kadar protein kasar, kadar protein yang paling tinggi dedak padi, dalam penentuan lamak kasar tepung ikan yang paling tinggi, dalam penentuan serat kasar dadek padi yang paling tinggi, Dari hasil praktikum pengenalan bahan pakan dari bahan-bahan pakan yang digunakan mempunyai kandungan utama yang berbda-beda seperti semua jenis bahan pakan. Sebagai sumber protein (hewani dan nabati), sumber energi, sumber mineral, dan sebagainya, kebanyakan obat-obatan hewan dan sumber vitamin bukan berasal dari alami akan tetapi lebih banyak yang berasal dari hasil olahan industrinoabat-obatan ternak, energi yang dihasilkan berbeda-beda karena komposisi dari setiap sampel berbeda.
Dari hasil praktikum yang di peroleh dari penentuan energi bruto dengan oksigen bomb kalorimeter dapat disimpulkan bahwa setiap masing – masing bahan kering (tepung jagung, dedak padi, bungkil kelapa, rumput raja) mempunyai nilai yang berbeda. Hal ini dapat dibuktikan setelah di lakukan praktikum, yang di lakukan selama kurang lebih 4 jam. Dalam penetapan energi ini terjadi pengubahan energi kimia dalam suatu sampel menjadi energi panas dan di ukur jumlah panas yang di hasilkan.
Dari praktikum Formulasi Ransum dan Mencampur Ransum dapat disimpulkan bahwa dalam pencampuran ransum bahan-bahan yang terlebih dahulu dicampurkan adalah bahan yang halus/ kecil harus dicampur terlebih dahulu hingga homogen maka selanjutnya bahan – bahan yang berjumlah lebih besar.
            Adapun metode yang digunakan dalam menyusun ransum ini antara lain yaitu metode trial and error method. Sedangkan di dalam mencampur ransum itu sendiri dapat menggunakan sumber protein, sumber energi, sumber mineral dan sumber yang lainnnya yang dapat menunjang terbentuknya ransum.

5.2 Saran
Demikian laporan ini, kepada pembaca agar dapat dijadikan pedoman untuk melakukan kegiatan yang sama. Akan tetapi laporn ini bukanlah sempurna untuk itu kiranya pemnaca dapat memberikan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk perbaikan laporan kedepannya.




















DAFTAR PUSTAKA


Anggorodi. R. 1997. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.

Anshory  Irfan ,  1984.  Bahan  Pakan  dan  Formulasi  Ransum.  Jakarta  :  Erlangga.

Aris. A. 1983. Kriteria Pakan Berkualitas. Universitas Indonesiaa Press. Jakarta.

Dwidjo. J. P.1997. Teknik Penyusunan Ransum. Penebar Swadaya. Jakarta.

Gultom S. 1988. Ilmu Gizi Ruminansia. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak. LUW-Universitas Brawijaya Animal Husbandri Project.

Hendalia, et.al. 2008. Biokimia Nutrisi. Fapet UNJA. Jambi.

Jamestown, 1997.  Theory and Practice Penambol Books Armidale. NSW. Australia.

John Siregar. 1978. Introduction Partical Animal Breeding. Granada Publishing, Mexico

Joseph, 1991. Ilmu Makanan Ternak. Gajah Mada University Press Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Kaswari. T. 2008. Diktat Nutrisi Ternak dasar. Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Jambi.

Kenan. 1980. An Introduction to Partical Animal Breeding. Granada Publishing, Newyork.

Kenan. 1980. General  College  Chemistry.  New  York  :  Harper  and  Row  Nurhayati, et.al. 2008. Nutrisi Ternak Unggas. Fapet UNJA. Jambi.

Lukman.a. 1987. Pemberian Ransum Unggas. Gramedia. Jakarta.

Mozeys, 2003. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University.Yogyakarta.


Parning,  Mika,  Marlan,  (2000).  Penuntun  Belajar  Bahan  Pakan  dan  Formulasi Ransum.  Jakarta  :  Yudistira.

Parrakkasi.a. 1995. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.
Petnowati, 1999.  Bahan  Pakan  dan  Formulasi  Ransum. Erlangga. Jakarta.

Purba, Michael.  2003.  Kimia  2000.  Erlangga. Jakarta.

Samuel, 1997.  A Short History Of Nutritional Science (1785 – 1885). journal of Nutrition. 

Soedarno, 1997. Introduction Partical Animal Breeding. Granada Publishing, Newyork.

Sondjya, 1998. Nutrition of the Chicken. 3rd Ed.M.L. Scott & Associates, Ithaca, New York.

Sutresna, Nana. 1995.  Kimia 2. Ganeca  Exact. Bandung.

Tobing. L.R. 1991.  Kimia Organik Pangan. Depdikbud. Jakarta.

Trobos. 2007. Pasar Menganga Bibit Langka. PT. PWI. Jakarta.

Trobos. 2008. Tuna Budidaya Jepang Mengancam. PT. PWI. Jakarta.

Ucoep Haroen et.al. (2008), Bahan Ajar Nutrisi Ternak Unggas. Fakultas Peternakan Universitas Jambi, Jambi









                                                 











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar